Senin, 26 Juni 2017

PEDAGOGI DAN ANDRAGOGI

PEDAGOGI DAN ANDRAGOGI
1. Perbedaan Pedagogi dan Andragogi
Andragogi
Pedagogi
1. Pembelajar disebut “peserta didik” atau “warga belajar”
1. Pembelajar disebut “siswa” atau  “anak      
   didik”
2. Gaya belajar independen
2. Gaya belajar dipenden
3. Tujuan fleksibel
3. Tujuan ditentukan sebelumnya
4. Diasumsikan bahwa peserta didi memiliki
    pengalaman untuk berkontribusi
4. Diasumsikan bahwa siswa tidak
   berpengalaman dan/atau kurang informasi
5. Menggunakan metode pelatihan aktif
5. Metode pelatihan pasif
6. Pembelajar memengaruhi waktu dan kecepatan
6. Guru mengontrol waktu dan kecepatan
7. Keterlibatan atau kontribus peserta sangat
    penting
7. Peserta berkontribusi sedikit pengalaman
8. Belajar terpusat pada masalh kehidupan nyat.
8. Belajar berpusat pada isi ataupengetahuan
    teoritis
9. Peserta dianggap sebagai sumberdaya utama
    untuk ide-ide dan contoh
9. Guru sebagai sumber utama yang
    memberikaan ide-ide dan contoh
Malcorn S. Knowles secara lebih rinci menyajikan asumsi dan proses pedagogi untuk dibedakan dengan andragogi. asumsi dan proses dimaksud disajikan berikut ini.

Asumsi Andragogi
Asumsi Pedagogi
1. Konsep-diri
1. peningkatan arah diri atau
   kemandirian
1. Ketergantungan diri
2. Pengalaman
2. Pelajar merupakan sumber
   daya yang kaya untuk belajar
2. Berharga kecil
3. Kesiapan
3. Tugas perkembangan: untuk
    belajar
3. Tugas perkembangan;
    tekanan sosial.
4. Perspektif
4. Kecepatan aplikasi
4. Aplikasi ditunda
5. Orientasi untuk belajar
5. Berpusat pada masalah
5. Berpusat pada substansu
    mata pelajaran
6. Iklim belajar
6. Mutualitas/pemberian
    pertolongan, rasa hormat,
    kolaborasi, dan informasi
6. Berorientasi otoritas, resmi,
   dan kompetitif
7. Perencanaan
7. Reksa (mutual) diagnosis diri
7. Oleh guru
8. Perumusan tujuan
8. Reksa negoisasi
8. Oleh guru
9. Desain
9. Diurutkan dalam hal kesiapan
    unit masalah.
9. Logika materi pelajaran, unit
   konten
10.Kegiatan
10. Teknik pengalaman
     (penyelidikan)
10. Teknik pelayanan
11. Evaluasi
11. Reksa diagnosis-kebutuhan
      dan reksa program
      pengukuran.
11.  Oleh guru

2. Antonim Pedagogi
Andragogi adalah antonim atau kata yang berlawanan makna dengan pedagogi. Dalam pedagogi mucul kekhwatiran dengan transmisi konten, sementara pada andragogi fokus perhatian pada bagaimana memfasilitasi akuisisi konten. Andragogi adalah teori yang menjelaskan metode spesifik yang harus digunakan dalam pendidikan orang dewasa.  Sebagai antonym pedagogi, praksis andragogi didasari atas asumsi seperti berikut ini.
  1. Pelajar atau waga belajar bergerak menuju kemerdekaan dan mengarahkan dirinya sendiri. Pendidik atau guru mendorong dan memelihara gerakan ini.
  2. Pengalaman belajar adalah sumber yang kaaya untuk belajar bagi siswa atau warga belajar dewasa. Oleh karena itu, metode pengajaran termasuk diskusi, bersifat pemecahan masalah.
  3. Orang-orang dewasa mempelajari apa yang perlu mereka ketahui, sehingga program belajar diorganisasi di sekitar aplikasi kehidupan mereka.
  4. Pengalaman belajar harus didasarkan sekitar pengalaman, karena kinerja orang terpusat dalam pembelajaran mereka.
Andragogi mengisyaratkan bahwa pelajar dewasa terlibat dalam identifikasi kebutuhan beljar mereka dan prencanaan bagaimana kebutuhan-kebutuhan tersebut bisa dipenuhinya. Belajar bagi orang dewasa harus menjadi aktif, bukan proses ppasif. Manusia dewasa belajar paling efektif bila peduli dengan memecahkan masalah-masalah yang oleh mereka dipandang memiliki relevansi dengan pengalaman sehari-hari mereka.

3. Pergeseran Konsep
Di era informasi ini implikasi pergeseran konsepsi pembelajaran berpusat pada guru ke berpusat pada sisa merupakan fenomena pendidikan yang megejutkan. Keduanya ada dalam realitas dan sering kali terpaksa seperti itu. Kata “berpusat” dalam kerangka “berpusat pada guru” atau “berpusat pada siswa” mestinya dipahami sebagaimana yang dominan pada situasi bagaimana dan untuk tujuan apa. Ketika guru harus memberi penjelasan, tidak bisa dihindari fenomena “berpusat pada guru”. Ketika siswa mengerjakan tugas-tugas, secara otomatis akan terjadi tindakan “berpusat pada siswa”. Ketika mereka sedang melakukan “kontrak belajar”, hampir dipastikan keduanya menjadi “pusat”, demikian juga pada saat guru/instruktur dan siswa/warga belajar berdiskusi untuk mneyepakati jadwal belajar, paasti keduanya akan menjadi “pusat”, karena bermaksud menemukan kesepakatan bersama.
Namun demikian, menunda atau menekan langkah untuk melakukan pergeseran dari “berpusat pada guru” ke “berpusat pada siswa” akan memperlambat kemampuan kita untuk mempelajari teknologi baru dan mendapatkan keuntungan kompetitif. Mengapa demikian Dlam banyak kasus, siswa dengan latar belakang keluarga tertentu biasanya lebih memiliki akses teknologi kertimbang sebagian dari gurunya.

Minggu, 09 April 2017

LAPORAN HASIL OBSERVASI

Laporan Observasi: Manajemen Kelas



Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah
Psikologi Pendidikan

Oleh:

Kelompok 6

Melisa Windi Tri Lestari                 161301084
Riky Hambali Samosir                    161301100
Muhammad Dani Syahputra           161301101    
Putri Amelia Tambunan                  161301109
Annisyah Maulidina                        161301111
Maswinda Ainun Mardiah              161301122
Bina Swita Manalu                          161301131
Asyifa Rizvi Al-Miraza                   161301157












FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2017


Testimoni Selama Belajar Psikologi Pendidikan

Kali ini saya sedikit mengshare testimony selama belajar Psikologi Pendidikan.

Pendapat saya selama belajar psikologi pendidikan sangat menarik dan sangat baik. Karena dosen-dosen  yang mengajar mata kuliah ini, sangat membantu. Dengan penguasaan dosen, dan cara mengajarnya, membuat perhatian mahasiswa fokus terhadap materi. Sangat menikmati setiap proses belajar. Selain itu menambah wawasan saya untuk mengelola blog yang selama ini saya tidak mengerti apa-apa mengenai blog. Selain itu tiap materi yang dipelajari menarik untuk dipelajari seperti materi motivasi, belajar, manajemen kelas dan sebagainya. Selain itu juga menambah pengalaman saya dalam mengobservasi manajemen kelas. Dimana saya dan teman-teman saya mendatangi SDN 064988 untuk melakukan observasi. Banyak hal yang saya dapat selama belajar psikologi pendidikan dan semuanya itu menambah wawasan, pengalaman, dan kesan yang baik.

Terimakasih 

BELAJAR

      Belajar dapat di defenisikan sebagai pengaruh permanen atas perilaku, pengetahuan, dan keterampilan berpikir, yang diperoleh melalui pengalaman.
           Tidak semua yang kita tahu itu diperoleh melalui belajar. Kita mewarisi beberapa kemampuan-kemampuan itu ada sejak lahir, tidak dipelajari. Misalnya, kita tidak harus diajari untuk menelan makanan, berteriak, atau berkedip saat silau. Tetapi, kebanyakan perilaku manusia tidak diwariskan begitu saja. Belajar melibatkan perilaku akademik dan non-akademik. Belajar berlangsung di sekolah dan di mana saja di seputar dunia anak.

Pendekatan untuk Belajar
·         Behavioral. Pendekatan belajar yang kita diskusikan pada bagian pertama bab ini dinamakan behavioral. Behaviorisme adalah pandangan yang menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang dapat diamati, bukan dengan proses mental. Menurut kaum behavioris, perilaku adalah segala sesuatu yang kita lakukan dan bisa dilihat secara langsung. Proses mental didefenisikan oleh psikolog sebagai pikiran, perasaan, dan motif yang kita alami namun tidak bisa dilihat oleh orang lain. Meskipun kita tidak bisa tidak bisa melihat pikiran, perasaan, dan motif secara langsung, semua itu adalah sesuatu yang riil.
     Menurut behavioris, pemikiran, perasaan, dan motif ini bukan subjek yang tepat untuk ilmu perilaku sebab semuanya itu tidak bisa diobservasi secara langsung. Pengkodisian klasik dan operan, yang merupakan dua pandangan behavioral. Kedua pandangan ini menekankan pembelajaran asosiatif, yang terdiri  dari pembelajaran bahwa dua kejadian saling terkait.
·         Kognitif. Dalam buku ini kita akan mendiskusikan empat pendekatan kognitif utama untuk pembelajaran: kognitif sosial; pemrosesan informasi kognitif; kontruktivis kognitif; dan konstruktivis sosial. Pendekatan pertama kognitif sosial, yang menekankan bagaimana faktor perilaku, lingkungan, dan orang (kognitif) saling berinteraksi memengaruhi proses pembelajara. Pendekatan kedua, pemrosesan informasi, menitikberatkan pada bagaimana anak memproses informasi melalui perhatian, ingatan, pemikiran, dan proses kognitif lainnya. Pendekatan ketiga, konstruktivis kognitif, menekankan konstruksi kognitif terhadap pengetahuan dan pemahaman.

PENDEKATAN BEHAVIORAL UNTUK PEMBELAJARAN
            Pendekatan behavioral menekankan arti penting dari bagaimana anak membuat hubungan antara pengalaman dan perilaku, pendekatan behavioris pertama yang akan kita bahas adalah pengkodisian klasik.


A. Pengkodisian Klasik
            Pengkodisian Klasik  adalah tipe pembelajaran dimana suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimuli. Dalam pengkodisian klasik, stimuli netral diasosiasikan dengan stimuli yang bermakna dan menimbulkan kapasitas untuk mengeluarkan respon yang sama. Untuk memahami teori pengkodisian klasik Pavlov kita harus memahami dua tipe stimuli dan dua tipe respons: unconditioned stimulus (US), unconditioned response (UR), conditioned stimulus (CS), dan conditioned response  (CR).

            Unconditioned Stimulus (US) adalah sebuah stimulus yang secara otomatis menghasilkan respons tanpa ada  pembelajaran terlebih dahulu. Unconditioned Response (UR) adalah respons yang tidak dipelajari yang secara otomatis dihasilkan oleh US. Sebuah Conditioned Stimulus (CS) adalah stimulus yang sebelumnya netral yang akhirnya menghasilkan conditioned response setelah diasosiasikan dengan US. Conditioned response  (CR) adalah respons yang dipelajari, yakni respons terhadap stimulus yang terkondisikan yang muncul setelah terjadi pasangan US-CS.
·         Generalisasi, Diskriminasi, dan Pelenyapan.  Generalisai dalam pengkodisian klasik adalah tendensi dari stimulus baru yang sama dengan conditioned stimulus yang asli untuk menghasilkan respons yang sama. Diskriminasi dalam pengkondisian  klasik terjadi ketika organisme meresponss stimuli tertentu tetapi tidak merspons stimuli lainnya. Pelenyapan (extinction) dalam pengkondisian klasik adalah pelemahan conditioned response (CR) karena tidak adanya unconditioned stimulus (US).
·         Desensitisasi Sistematis. Terkadang kecemasan dan stress yang terkait dengan kejadian negatif dapat dihilangkan dengan pengkondisian klasik. Desensitisasi sistematis adalah sebuahmetode yang didasarkan pada pengkondisian klasik yang dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan dengan cara membuat individu mengasosiasikan relaksasi dengan  visualisasi situasi yang menimbulkan kecemasan.
Desensitisasi Sistematis melibatkan sebuah tipe counter conditioning. Perasaan rileks yang dibayangkan murid (US) menghasilkan relaksasi (UR). Murid kemudian mengasosiasikan isyarat yang menimbulkan kecemasan (CS) dengan perasaan relaksasi. Relaksasi tersebut bertentangan dengan keceemasan. Dengan memasangkan isyarat penghasil kecemasan dengan relaksasi, dan secara bertahap menyusun hierarki, semua isyarat yang menimbulkan kecemasan akan menghasilkan relaksasi (CR).
·         Mengevaluasi Pengkodisian Klasik. Pengkondisian klasik membantu kita memahami beberapa aspek pembelajaran dengan lebih baik. Cara ini membantu menjelaskan bagaimana stimuli  netral menjadi diasosiasikan dengan respons yang tak dipelajari dan sukarela. Ini sangat membantu untuk memahami kecemasan dan ketakutan murid. Namun, cara ini tidak efektif untuk menjelaskan perilaku sukarela, seperti mengapa murid belajar keras untuk satu mata pelajaran atau lebih menyukai sejarah ketimbang geografi. Untuk area ini, mungkin pengkondisian operan akan lebih relevan.


B. Pengkondisian Operan
            Pengkondisian Operan adalah sebentuk pembelajaran di mana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi. Arsitek utama dari pengkondisian operan adalah B.F. Skinner, yang pandangannya didasarkan pada pandangan E.L. Thorndike.
·                    Hukum Efek Thorndike. Hukum efek Thorndike menyatakan  bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil positif akan diperkuat dan bahwa perilaku yang diikuti hasil negatif akan diperlemah. Pertanyaan utama untuk Thorndike adalah bagaimana respons stimulus yang benar (S-R) ini menguat dan akhirnya mengalahkan respons stimulus yang tidak benar. Menurut Thorndike, asosiasi S-R yang tepat akan diperkuat, dan asosiasi yang tidak tepat akan melemah, karena konsekuensi dari tindakan organism. Pandangan Thorndike disebut teori S-R karena perilaku organisme itu dilakukan sebagai akibat dari hubungan antara stimulus dan renspons.
·         Pengkondisian Operan Skinner. Pengkondisian operan, dimana konsekuensi perilaku akan menyebabkan perubahan dalam probabilita perilaku itu akan terjadi, merupakan inti dari behaviorisme Skinner (1938). Konsekuensi-imbalan atau hukuman-bersifat sementara (kontigen) pada perilaku organisme.
            Penguatan dan hukuman. Penguatan (reinforcement) adalahkonsekuensi yang meingkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya, hukuman (punidhment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku. Dalam penguatan positif, frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). Dalam penguatan negatif, frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan). Satu cara untuk mengingat perbedaan antara penguatan positif dan penguatan negatif adalah dalam penguatan positif ada sesuatu yang ditambahkan atau diperoleh. Dalam penguatan negatif, ada sesuatu yang dikurangi atau dihilangkan. Adalah mudah untuk mengacaukan penguatan negatif dan hukuman. Agar istilah ini tidak rancu, ingat bahwa penguatan negatif meningkatkan probabilitas terjadinya suatu perilaku, sedangkan hukuman  menurunkan probabilitas terjadinya perilaku.
            Generalisasi, diskriminasi, dan pelenyapan. Generalisasi dalam pengkondisian operan berarti memberikan respons yang sama terhadap stimuli yang sama. Yang menarik adalah sejauh mana perilaku digeneralisir dari situasi ke situasi lainnya. Diskriminasi dalam pengkondisian operan berarti perbedaan di antara stimuli dan kejadian lingkungan. Dalam pengkondisian operan, pelenyapan terjadi ketika respons penguat sebelumnya tidak lagi diperkuat dan responnnya menurun.

Daftar Pustaka

Santrock, J. W. (2004). Psikologi Pendidikan edisi kedua. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.

Sabtu, 08 April 2017

MOTIVASI DAN PROSES KOGNITIF


A. Motivasi
            Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku.

B. Perspektif tentang Motivasi
            Perspektif psikologis menjelaskan motivasi dengan cara yang berbeda berdasarkan perspektif yang berbeda pula. Ada empat perspektif motivasi:
1.      Perspektif Behavioral
Perspektif  Behavioral menekankan imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi. Intensif adalah peristiwa atau stimuli positif atau negatif yang dapat memotivasi perilaku murid. Pendukung penggunaan intensif menekankan bahwa intensif menambah minat atau kesenangan pada pelajaran, dan mengarahkan perhatian pada perilaku yang tepat dan manjauhkan mereka dari perilaku yang tidak tepat.
2.      Perspektif Humanistis
Perspektif humanistis menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebesan untuk memilih nasib mereka, dan kualitas positif (seperti peka terhadap orang lain). Perspektif ini berkaitan erat dengan pandangan Abraham Maslow bahwa kebutuhan dasar tertentu harus dipuaskan dahulu sebelum memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi. Menurut hierarki kebutuhan Maslow, kebutuhan individual harus dipuaskan dalam urutan sebagai berikut
Menurut Maslow, misalnya, murid harus memuaskan kebutuhanmakan sebelum mereka dapat berprestasi.
Aktualisasi diri, kebutuhan tertinggi dan sulit dalam hierarki Maslow, diberi perhatian khusus. Aktualisasi diri adalah motivasi untuk mengembangkan potensi diri secara penuh sebagai manusia. Menurut Maslow, aktualisasi diri dimungkinkan hanya setelah kebutuhan yang lebih rendah telah  terpenuhi. Maslow memperingatkan bahwa kebanyakan orang berhentii menjadi dewasa setelah mereka mengembangkan level harga diri yang tinggi dan karenanya tak penuh sampai ke aktualisasi diri.
3.      Perspektif Kognitif
Menurut perspektif kognitif, pemikiran murid akan memandu motivasi mereka. Belakangan ini muncul minat besar pada motivasi menurut perspektif kognitif. Minat ini berfokus pad aide-ide seperti motivasi internal murid untuk mencapai sesuatu, atribusi mereka (persepsi tentang sebab-sebab kesuksesan dan kegagalan, terutama persepsi bahwa usaha adalah faktor penting dalam prestasi), dan keyakinan mereka bahwa mereka dapat mengontrol lingkungan mereka secara efektif. Perspektif kognitif juga menekankan arti penting dari penentuan tujuan, perencanaan dan monitoring kemajuan menuju suatu tujuan. Perspektif Kognitif merekomendasikan agar muid lebih banyak kesempatan dan tanggung jawab untuk mengontrol hasil prestasi mereka sendiri.
           Perspektif kognitif tentang motivasi sesuai dengan gagasan R.W White(1959),  yang mengusulkan konsep motivasi kompetensi, yakni ide bahwa orang termotivasi untuk menghadapi lingkungan mereka secara efektif, menguasai dunia mereka, dan memproses informasi secara efisien.  
4.      Perspektif Sosial
Kebutuhan afiliasi atau keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan oranglain secara aman. Ini membutuhkan pembentukan, pemeliharaan dan pemulihan hubungan personal yang hangat dan akrab. Kebutuhan afiliasi murid tercermin dalam motivasi mereka untuk menghabiskan waktu bersama teman, kawan dekat, kerterikatan mereka dengan orangtua, dan keinginan untuk menjalin hubungan positif dengan guru.
           Murid sekolah yang punya hubungan yang penuh perhatian dan suportif biasanya memiliki sikap akademik yang positif dan lebih senang bersekolah. Dalam sebuah studi berskala luas, salah satu faktor terpenting dalam motivasi dan prestasi adalah persepsi mereka mengenai apakah hubungan mereka dengan guru bersifat positif atau tidak.

C. Motivasi untuk meraih sesuatu
·         Motivasi Ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu
yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Motivasi ekstrinsik sering dipengaruhi oleh intensif eksternal seperti imbalan dan hukuman.
·         Motivasi Intrinsik adalah motivasi internal untuk melaukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). Ada dua jenis motivasi intrinsik yaitu: (1) motivasi intrinsik dari determinasi diri dan pilihan personal (2) motivasi intrinsik dari pengalaman optimal.
(1)   Motivasi intrinsik dari determinasi diri dan pilihan personal. Salah satu pandangan tentang motivasi intrinsic menekankan pada determinasi diri. Dalam pandangan ini, murid ingin percaya bahwa mereka melakukan seuatu karena kemauan sendiri, bukan karena kesuksesan atau imbalan eksternal. Para periset menemukan bahwa motivasi internal dan minat intrinsic dalam tugas sekolah naik apabila murid punya pilihan dan peluang untuk mengambil tanggung jawab personal atas pembelajaran mereka.
(2)   Pengalaman Optimal. Mihaly Csikszentminhalyi juga mengembangkan ide yang relevan untuk memahami  motivasi intrinsik. Dia mempelajari pengalaman optimal ini berupa lebih dari dua dekade. Orang melaporkan bahwa pengalaman optimal ini berupa perasaan senang dan bahagia yang besar. Csikszentminhaly menggunakan istilah flow untuk mendeskripsikan pengalaman  optimal dalam hidup. Dia menemukan bahwa pengalaman optimal itu kebanyakan terjadi ketika orang merasa  mampu menguasai dan berkonsentrasi penuh saat melakukan suatu aktivitas. Dia mengatakan bahwa pengalaman optimal ini terjadi ketika individu terlibat dalam tantangan yang mereka anggap tidak terlalu sulit tetapi juga tidak terlalu mudah.

D. Proses Kognitif
            Diskusi tentang motivasi ekstrinsik dan intrinsik membuka jalan ke pengenalanan proses kognitif lainnya yang terlibat dalam memotivasi murid untuk belajar. Saat kita membahas empat proses kognitif lainnya, perhatikan bahwa perbedaan motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik tetap penting. Empat proses ini adalah (1) atribusi (2) motivasi untuk menguasai keahlian (3) self-efficacy (4) penentuan tujuan, perencanaan dan monitoring diri.
       1)      Atribusi. Teori atribusi menyatakan bahwa dalam usaha mereka memahami perilaku atau kinerjanya sendiri, orang-oramg termotivasi untuk menemukan seba-sebab mendasarinya. Atribusi adalah sebab-sebab yang dianggap menimbulkan hasil. Dalam satu cara teoritis atribusi mengatakan, “Murid adalah seperti ilmuwan intuitif, berusaha menjelaskan sebab-sebab di balik apa yang terjadi”. Pencarian sebab-sebab atau penjelasan ini lebih mungkin akan muncul jika kejadian yang tak diduga atau kejadian penting berakhir dengan  kegagalan, seperti ketika seorang murid mendapat nilai buruk. Beberapa hal yang kerap dianggap sebagai penyebab kesuksesan atau kegagalan adalah kemampuan, usaha, tingkat kesulitan, dan kemudahan tugas/soal, keberuntungan , suasana hati, dan bantuan atau rintangan dari orang lain.
            Bernard Weiner mengidentifikasi tiga dimensi atribut kausal: (1) lokus, apakah sebab itu bersifat eksternal atau internal bagi si aktor; (2) kemampuan, sejauh mana sebab-sebab itu tetap tidak bisa diubah atau dapat diubah; dan (3) daya kontrol, sejauh mana individu dapat mengontrol sebab tersebut.
(1)   Lokus. Persepsi murid tentang kesuksesan atau kegagalan sebagai akibat dari faktor internal atau eksternal yang memengaruhi harga diri murid.
(2)   Stabilitas. Persepsi murid terhadap stabilitas dari suatu sebab yang memengaruhi ekspektasi kesuksesannya. Jika ia menisbahkan hasil positif dengan sebab yang stabill (tetap, tak bisa diubah), maka dia akan memperkirakan keberhasilan di masa depan.
(3)   Daya Kontrol. Persepsi murid tentang daya control atas suatu sebab berhubungan dengan sejumlaah hasil emosional seperti kemarahan, rasa bersalah, rasa kasihan, dan malu.

       2)      Motivasi untuk menguasai. Yang berhubungan erat dengan ide tentang motivasi intrinsik dan atribusi adalah konsep motivasi penguasaan. Para periset menyebut penguasaan ini sebagai salah satu dari tiga tipe orientasi prestasi: penguasaan, tak berdaya, dan kinerja. Anak dengan orientasi untuk menguasai akan fokus pada tugas ketimbang pada kemampuan mereka, punya sikap positif (menikmati tantangan), dan menciptakan  strategi berorientasi solusi yang meningkatkan kinerja mereka. Anak dengan orientasi tak berdaya berfokus pada ketidakmampuan personal mereka, sering kali mereka mengatributkan kesulitan mereka pada kurangnya kemampuan, dan menunjukkan sikap negatif (termasuk kejemuan dan kecemasan).

        3)      Self-Efficacy. Pendekatan Behavioral dan Kognitif Sosial kita memperkenalkan konsep Self-Efficacy (keyakinan ada diri sendiri) menurut  Bandura, yakni keyakinan bahwa seseorang dapat menguasai situasi dan memproduksi hasil positif. Bandura (1997,2000,2001) percaya bahwa self-efficacy adalah faktor penting yang memengaruhi prestasi murid. Self-Efficacy punya kesamaan dengan motivasi utnuk menguasai dan motivasi intrinsik. Self-Efficacy adalah keyakinan bahwa “Aku bisa”;  ketidakberdayaan adalah keyakinan bahwa ”Aku tidak bisa”. Murid dengan self-efficacy tinggi setuju dengan pernyataan “Saya tahu bahwa saya akan mampu menguasai materi ini” dan “Saya akan bisa mengerjakan tugas ini”

       4)      Penentuan Tujuan, Perencanaan, dan Monitoring Diri. Pendekatan Behavioral dan Kognitif sosial,” kita mendiskusikan sejumlah ide tentang pembelajaran regulasi diri (self-regulatory), yang terdiri dari penciptaan pemikiran sendiri, perasaan sendiri dan perilaku sendiri dalam rangka mencapai suatu tujuan.

Daftar Pustaka


Santrock, J. W. (2004). Psikologi Pendidikan, Edsi Kedua. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.

Selasa, 21 Maret 2017

Psikologi dan Tahap Perkembangan Pendidikan

Hai teman-teman kali ini postingan saya juga berisi tentang materi Psikologi Perkembangan dengan judul Psikologi dan Perkembangan Pendidikan . Bersama dengan rekan-rekan saya Bina SwitaDaniAnnisyah MaulidinaMelisa WindiRiky Hambali

PSIKOLOGI dan TAHAP PERKEMBANGAN PENDIDIKAN
            Perkembangan individu murid, siswa, dan mahasiswa (peserta didik), ditunjukkan bagaimana perkembangan anak-anak, remaja dan dewasa tumbuh dan berkembang secarafisik, psikis dari fase ke fase seperti dalam hal pertumbuhanfisik, kognitif, afektif, sosial, psikomotor, moral. Proses pengajaran dan pembelajaran tidak akan bisa berjalan efektif dan efisien apabila seorang pendidik tidak memahami perkembangan peserta didik secara menyeluruh. Untuk itu pendidik memerlukan pengetahuan tentang perkembangan individu peserta didik.

1. Perkembangan pada masa kanak-kanak (early childhood) yaitu usia 2-6 tahun
           
Krisis yang terjadi adalah inisiatif vs rasa bersalah (initiative vs guilt). Secara deskriptif, anak-anak menunjukkan kemampuan dan keterampilan motorik dan menjadi lebih tertarik dalam interaksi sosial dengan orang-orang di sekitarnya. Mereka belajar mencapai keseimbangan antara hasrat kebebasan dan tanggung jawab, belajar mengontrol impuls-impuls dan fantasi kekanak-kanakan. Jika orang tua memberi harapan,tetapi konsisten dalam disiplin, maka anak akan belajaar menerima kesalahan, dan tidak dihimggapi perasaan-negatif, seperti perasaan malu secara berlebihan. Sebaliknya, jika orang tua kurang memahami anak, maka akan berkembangan perasaan bersalah dan kurang percaya diri yang berujung pada kesalahan indepedensi.

Mempunyai ciri-ciri:
·         Negatif
·         Masa Bermain:
-uncopice
-onlooker behaviour
-solitary depentent play
-parallel day
-associative play
-coorperative play
·         Masa Eksplorasi
·         Masa Meniru
·         Tahap Perkembangan Kognitif (Piaget):
-Periode Pra-operasional
-Menggunakan simbol-simbol, seperti refleksi mental, kata-kata, dan  penampilan fisik    
  terhadap lingkungannya (objek dan peristiwa-peristiwa).
-Kemampuan berbahasa lebih meningkat.
-Transisi dari tahap intuitif ke tahap operasi konkret ditandai oleh pencapaian satu atau
  lebih konservasi(konservasi berarti bahwa aspek-aspek kuantitatif dari objek tidak 
  berubah kecuali kalau sesuatu ditambahkan atau dikurangkan daripadanya, meskipun
  terjadi perubahan-perubahan dalam penampilannya.

-Berpikir dipandu oleh aturan-aturan logika lebih mmepercayai operasi-operasi.
-Cara berpikir bersifat egosentris
-Penalaran didominasi oleh Persepsi
-Pemecahan masalah lebih intuitif daripada logis.
·         Tingkat Perkembangan Moral (Kohlberg): Prakonvensional
      -Tahap 1:  Orientasi Hukuman
      -Tahap 2: Orientasi Ganjaran

2. Masa Kanak-kanak Akhir (elementary and middle school years) yaitu usia 6-12 tahun
            Krisi yang terjadi adalah kompetensi vs. Rendah diri (competence vs inferiority). Secara deskriptif, sekolah atau belajar adalah peristiwa penting. Anak belajar membuat keputusan, memperoleh keterampilan-keterampilan untuk bidang-bidang pendidikan dan pekerjaan tertentu, serta pengembangan potensi dasar.  Anak-anak , menunjukkan suatu era trasnsisi antara keluarga dengan teman sebaya. Jika anak-anak memperoleh ransangan intelektual yang memaadai, maka mereka menjadi lebih produktif, dan sukses dalam mengembangkan potensinya. Sebaliknya, jika tidak memperoleh kepuasaan, maka mereka akan menunjukkan sikap rendah diri.

Mempunyai ciri-ciri:

·         Periode Operasional Konkret
·         Pengaruh teman sebaya mulai dominan
·         Tahap Perkembangan Kognitif (Piaget):
      - Mampu berpikir logis tentang objek dan kejadian
-Operasional Konkret
-Berpikir secara konkret
      - Mampu mengklasifikasi jumlah dan berat
-Mampu mengatur secara serial
-Memahami konsep bilangan.
-Berkembangan azas dalam berpikir
-Mampu berkonservasi
-Logika penggolongan dan relasi
·         Tingkat Perkembangan Moral Konvensional
      Tahap 3: Orientasi ”good boys/girls”
      Tahap 4: Orientasi Otoritas tokoh yang disegani






3. Masa Remaja (Adolescense) yaitu usia 12-18 tahun
            Krisis yang terjadi ialah identitas vs kebingunan peran (identity vs role confusion). Secara deskriptif, remaja  berfokus pada pertanyaan ”siapa saya”. Untuk sukses menjawab pertanyaan ini, Erickson menyatakan remaja mesti bebas dari rasa konflik dalam berbagai hal, adanya peluang untuk mengembangkan kepercayaan diri, independensi, kompetensi, dan kontrol diri. Jika remaja bebas atau sukses dalam mengatasi konflik yang mungkin terjadi, maka mereka akan sukses dalam tahap ini dan memperoleh identitas diri yang kukuh, dan siap membuat perencanaaan untuk masa depannya. Sebaliknya, jika gagal mengatasi konflik dan  identitas diri, maka remaja akan tenggelam dalam kebingunan, tidak mampu membuat pilihan dan keputusan, khususnya tentang pekerjaan, orientasi seksual, dan peran  kehidupan secara keseluruhan.

Mempunyai ciri-ciri:
·         Perkembangan Fisik: Mengarah ke bentuk badan orang dewasa
·         Perkembangan Seksual: Mulai aktifnya hormon seksual
·         Perkembangan Heteroseksual:  Mulai tertarik dengan lawan jenis
·         Perkembangan Emosional: Emosional tak stabil, berubah-ubah dan cenderung meledak-
      ledak.
·         Perkembangan Kognitif:
      -Generalisasi pemikiran yang lengkap
      -Berpikir proposional
      -Kemampuan memecahkan masalah abstrak dan hipotesis
      -Berkembangannya idealisme yang kuat
      -Berpikir kombinasional
      -Berpikir secara sistematis
      -Mampu berpikir abstrak
      -Mampu memecahkan masalah belajar yang bersifat abstrak secara sistematis dan
        generalis
      -Dapat menerapkan pernyataan-pernyataan verbal dan logis
·         Pola berpikir cenderung egosentris
·         Perkembangan Moral : Kebanyakan tingkat konvensional
      Tahap 5: Orientasi tingkat sosial
      Tahap 6: Orientasi asas etis

Selasa, 07 Maret 2017

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Hai teman-teman kali ini saya menampilkan tugas mata kuliah psikologi pendidikan berupa presentasi mengenai perencanaan, intruksi, dan teknologi. Dan tugas ini dikerjakan bersama kelompok saya yaitu kelompok 6 yang beranggotakan MirandaBina SwitaMaswindaRiky Hambali. Semoga dapat bermanfaat bagi teman-teman semua :)

Total Tayangan Halaman

About me

Pages

Flickr Images

Like us on Facebook